Perang Salib dan Pengaruhnya pada Hubungan Islam-Kristen di Indonesia

0

Wacana Pembuka

Orang Kristen di Indonesia, pada umumnya, memandang orang Islam dengan tafsiran sempit tentang Ismael dalam Kej 16:12. Di sini orang Islam diperikan sebagai orang yang lakunya seperti keledai liar dan tangannya melawan setiap orang. Perusakan dan pembakaran gedung-gedung gereja semakin memperkuat pandangan ini terhadap orang Islam bahwa ayat tersebut adalah kutukan dan bukan janji berkat [1].

Tony Lane, seorang lektor dalam bidang Ajaran Kristen pada London Bible College, pernah menyatakan bahwa orang yang tidak menguasai sejarah adalah bagaikan orang yang lupa ingatan. Pernyataannya mengandung kebenaran. Seperti yang disebutkan di atas bahwa banyak orang Kristen menuduh bahwa sebab-musabab ketidakharmonisan umat beragama (Kristen dan Islam) adalah pihak Islam. Mereka lupa bahwa orang Kristen pernah melakukan perbuatan keji, biadab, sekaligus memalukan dalam peristiwa yang disebut Perang Salib pada abad pertengahan.

Ada banyak sumber informasi untuk memahami seluk-beluk Perang Salib. Adalah mustahil untuk menampungnya secara rinci ke dalam makalah yang dibatasi jumlah halamannya. Namun demikian ada beberapa hal yang dapat diungkapkan dalam peristiwa Perang Salib tersebut agar orang Kristen dapat berefleksi diri demi kesaksian yang baik bagi kehidupan mereka di Indonesia. Setidaknya orang Kristen tidak berat sebelah dalam melakukan pelayanan.

Latar Belakang dan Faktor-faktor Penyebab Perang Salib

Sebagian besar pengaruh kebudayaan Islam atas Eropa terjadi akibat pendudukan kaum Muslim di Spanyol dan Sisilia. Berasal dari sekelompok tentara pengintai Islam menyeberang dari Afrika Utara ke ujung paling selatan Spanyol pada Juli 710. Laporan kegiatan mata-mata ini menimbulkan minat baru untuk menyerang [2]. Pada tahun 711 pasukan penyerang yang berjumlah 700 orang [3] yang dipimpin oleh Tariq dari Bani Umayyah menyerbu Spanyol. Ia berhasil mengalahkan Roderick, raja Visigoth. Setelah menambah sekitar 500 orang lagi tentara Arab berhasil menaklukkan hampir seluruh semenanjung Iberia [4].

Pada tahun 750 kekaisaran Islam di bawah kendali Bani Umayyah jatuh di tangan Bani Abbasiyah. Pusat pemerintahan dipindahkan dari Damaskus ke Baghdad. Oleh karena berpusat di timur, maka mereka kesukaran mengendalikan provinsi di sebelah barat. Seorang pangeran muda dari Bani Umayyah berhasil melarikan diri dari Maroko ke Spanyol. Di sana ia bergabung dengan salah satu faksi yang tengah bentrok, dan atas kepemimpinannya mereka menggapai kemenangan. Pada tahun 756 ia bergelar Khalifah Abd al-Rahman I dengan pusat pemerintahan di Cordoba.

Spanyol Islam dianggap mencapai puncak kekuasaan dan kemakmurannya pada masa kekhalifahan Abd al-Rahman III (912 – 961) [5]. Keberadaan negara atau wilayah tidak lepas dari gerakan-gerakan politik di dalamnya. Gerakan politik pertama muncul pada akhir pemerintahan Ustman bin Affar yang ditandai dengan kemunculan Abdullah bin Saba [6]. Gerakan politik ini selalu melekat pada pemerintahan Islam di sepanjang sejarah, termasuk di Spanyol Islam. Intrik-intrik ini membuat Spanyol Islam mengalami pasang surut.

Dunia Kristen Latin juga merasakan pengaruh Islam melalui Sisilia. Serangan pertama ke Sisilia terjadi pada tahun 652 di kota Sisacusa. Akan tetapi pendudukan orang-orang Arab di Sisilia tidak berlangsung lama. Kebangkitan kembali Kerajaan Byzantium mengakibatkan berakhirnya semua pendudukan atas wilayah-wilayah penting [7].

Pada tahun 1055 tentara Turki mulai menyerang ke arah barat, yaitu kekaisaran Byzantium dan Siria. Mereka juga menguasai Yerusalem pada tahun 1070. Dengan demikian daerah yang bertetangga dengan dunia Kristen dikuasai oleh orang Islam militan. Orang-orang Kristen yang dahulu dapat berziarah ke Yerusalem secara bebas mulai diganggu oleh orang-orang Turki. Pada abad 11 orang-orang yang hendak berziarah membentuk kelompok-kelompok besar lengkap dengan perlindungan militer.

Setelah pengaruh Romawi lenyap dari Eropa Barat pada abad 5 wilayah ini ditimpa kekacauan. Suku-suku German yang merebut daerah yang dahulu dikuasai Romawi mempunyai kebudayaan yang jauh lebih rendah ketimbang kebudayaan Romawi dan Arab. Kehidupan gereja pun terpengaruh. Mulailah senjata masuk gereja.

Misi pekabaran Injil dihubungkan dengan ekspedisi militer. Memasuki abad 11 gereja mulai melibatkan para bangsawan yang gemar berperang untuk menyerang musuh-musuhnya. Musuh-musuh di sini adalah orang Islam dan para bidat. Dengan demikian gereja mengatur peperangan dan menjamin kedamaian, ketenteraman, serta keadilan. Politik ini disebut gerakan damai Allah. Para bangsawan diberi etos khusus agar memakai keahliannya demi iman dan gereja. Mereka menjadi tentara Kristen atau ksatria Kristen [8]. Paus mengobarkan semangat mereka dan memberi jaminan pengampunan dosa. Paus berambisi untuk menggabungkan gereja timur ke dalam kekuasaannya dan mengusir orang Islam dari Baitul Maqdis [9]. Menurut van den End & de Jonge (2001) semangat iman, semangat berperang, dan semangat politik bersatupadu sehingga sukar menentukan sisi mana yang paling menonjol. Pada tahun 1050 dikenallah gerakan perang suci, yang juga disebut Perang Salib. Disebut Perang Salib karena para ksatria menggunakan lambang salib dari kain merah pada bahu dan dada sebagai tanda.

Perang-perang Salib

Perang Salib I

Berawal di Sisilia pada tahun 1050 ketika orang-orang Islam diusir. Hal yang sama terjadi juga di Spanyol. Pada tahun 1063 para tentara Salib Perancis dan Spanyol sepakat untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Islam. Paus merestui mereka. Pada tahun 1085 raja-raja Kristen di Spanyol Utara merebut Spanyol dari tangan orang Islam

Dalam pada itu Byzantium yang terjepit oleh Turki meminta bantuan kepada Gereja Barat. Hal ini dimanfaatkan oleh Paus nuntuk memperluas pengaruhnya di Timur. Pada tahun 1094 Paus Urbanus II mengimbau orang Kristen barat untuk menolong Byzantium. Melalui Sungai Rhein dan Donau para tentara Salib dari Jerman menuju Konstantinopel sambil membunuhi dan menyiksa orang-orang Yahudi.

Kaisar Byzantium akhirnya terpaksa tunduk kepada Paus dan Gereja Barat. Padahal pandangan Gereja Timur terhadap perang ini berbeda dengan Gereja Barat. Bagi mereka ini bukanlah perang suci.

Di Asia Kecil tentara Salib beberapa kali mengalahkan orang-orang Turki, sehingga Kaisar Alexios sempat merebut kembali sebagian daerah yang hilang setelah tahun 1071. Lalu pada tahun 1097 tentara Salib berhasil menguasai Antiokhia dengan perjuangan berbulan-bulan dan menelan korban sangat banyak. Tentara Salib meneruskan perjalanan ke Yerusalem dan tiba di sana pada Juni 1099. Orang-orang Kristen yang merupakan mayoritas diusir dari Yerusalem. Mereka mengepung kota. Yerusalem berhasil direbut oleh tentara Salib. Orang Yahudi dan Islam dibunuhi.

Para pemimpin tentara Salib mendirikan Kerajaan Yerusalem (1099 – 1187) yang juga meliputi Antiokhia, Edesssa, dan Tripoli. Secara pemerintahan daerah ini di bawah Konstantinopel, namun gerejanya di bawah Paus di Roma [10].

Keberhasilan tentara Salib bukanlah karena keunggulan strategi militer. Keberhasilan mereka banyak ditentukan oleh kelemahan orang-orang Saljuk (Turki) akibat meninggalnya Malik Syah. Orang-orang Turki terpecah belah. Ciri khas tentara Salib ialah merusak apa saja yang ditemuinya dan membakarnya [11].

Perang Salib II (1147 – 1149)

Malik Syah digantikan oleh Imaduddin Zanki. Ia mengumpulkan sisa-sisa kekuatan Saljuk. Namun tak lama kemudian ia meninggal. Ia digantikan oleh anaknya, Nuruddin Zanki. Ia berhasil menumpas pemberontakan orang-orang Armenia. Kemenangan ini membuat orang-orang Eropa Barat bangkit lagi hasratnya untuk kembali ke dunia Timur [12].

Seorang rahib termasyur pada zaman itu, Bernard dari Clairvux, menghasut dan mengobarkan semangat Perang Salib kepada orang-orang Eropa Barat. Yang memimpin tentara Salib adalah raja Perancis, Louis VII dan kaisar Jerman, Konrad III. Di sini jelas sekali faktor dan motif politik semakin menonjol [13]. Namun usaha mereka gagal untuk menguasai Damaskus dan Askalon, karena dipatahkan oleh pasukan Nuruddin Zanki [14].

Perang Salib III (1189 – 1192)

Perang ini berawal dari kekalahan tentara Salib di Palestina dekat Tiberias (1187) dan penaklukan Yerusalem oleh Sultan Saladin dari Mesir. Tentara Salib dipimpin oleh kaisar Jerman, Friedrich III, Barbarossa, bersama dengan raja Inggris, Richard, dan raja Perancis, Philippe II. Raja Richard berhasil merebut kota Akko dan ia juga mengikat perjanjian dengan Sultan Saladin. Isi perjanjiannya ialah orang-orang Kristen diperbolehkan tinggal di daerah pesisir antara Tyrus dan Jaffa, serta para peziarah diperbolehkan mengunjungi Yerusalem secara bebas [15].

Perang Salib IV (1202 – 1204)

Paus Innocentius III (1198 – 1216) ingin menguasai Mesir dan mengirim tentara Eropa Barat untuk menyerang Mesir. Ekspedisi ini dibiayai oleh pemerintah Venesia. Pasukan ini ternyata tidak pernah tiba di Palestina. Kekuatannya dipergunakan untuk menghancurkan pesaing perdagangan Venesia, yaitu Konstantinopel. Tentara Salib akhirnya menduduki dan menjarah kota Konstantinopel, lalu dijadikan kekaisaran yang takluk pada Gereja Roma [16].

Perang Salib V (1218 – 1221)

Perang Salib ini cukup singkat. Sebelumnya Paus Innocentinus III mendorong usaha serangan militer ke Mesir. Paus penggantinya, Honorius III, meneruskan usaha ini.

Tentara Salib berhasil menguasai kota Damietta di pantai Mesir (1219). Akan tetapi pada tahun 1221 kota terpaksa terlepas lagi. Pada masa inilah Fransiskus dari Asisi memulai usahanya untuk mengabarkan Injil kepada sultan Mesir, Al-Kamil [17].

Perang Salib VI (1248 – 1254)

Pada tahun 1244 Yerusalem diduduki kembali oleh tentara Islam. Raja Louis IX melakukan Perang Salib dan menyerang Mesir. Pada tahun 1249 kota Damietta diserbu, namun Louis IX gagal, dan bahkan menjadi tawanan perang. Ia berhasil dilepaskan setelah ditebus dengan banyak uang. Ia pulang ke Perancis pada tahun 1254 [18].

Perang Salib VII (1270)

Antara tahun 1250 dan 1254 Raja Louis IX tinggal di Tanah Suci untuk membangun ulang kubu dan kekuasaan lewat usaha diplomasi, karena merasa gagal lewat perang. Berkat status dan wewenangnya ia berhasil menjadi penguasa di Kerajaan Yerusalem [19]. Sebelumnya ia sempat merebut kota Damietta di Mesir pada tahun 1249 (Perang Salib VI). Namun ketika menuju Kairo pasukannya dipukul mundur dan terserang penyakit pes. Ia sempat ditawan dan dibebaskan sebulan kemudian. Pada tahun 1270 Louis IX kembali memimpin penyerangan ke Tunisia. Namun ia meninggal karena terserang penyakit pes [20].

Sultan Baybars merupakan orang pertama di antara para sultan yang berhasil menghancurkan kekuatan tentara Salib. Ia adalah keturunan Mameluk dari Mesir. Pada tahun 1262 ia membangkitkan massa Saladin untuk kembali ke Asia Barat. Sebuah kota dan benteng yang dikuasai oleh tentara Salib direbutnya kembali, sehingga pada tahun 1286 kota Jaffa dapat juga ditaklukkan. Penyerangan berikutnya diteruskan ke Utara untuk merebut Antiokhia. Pada tahun 1289 Tripoli di Lebanon direbutnya juga. Pada tahun 1291 Akko, sebuah kota terpenting kekuatan tentara Salib, dapat ditaklukkannya. Sejak saat itu masa tentara Salib habis di seluruh benua Timur [21].

Akibat Perang Salib pada Gereja dan Islam di Eropa dan Timur Tengah

Nyatalah bahwa tentara Salib tidak membawa damai, tetapi pedang; pedang itu adalah untuk memotong-motong dunia Kristen. Ketidaksetujuan doktrinal yang telah berlangsung lama dipaksakan kepada Gereja Timur oleh kebencian nasional yang mendalam [22]. Perang Salib memang tidak memberikan maslahat apapun bagi orang-orang Kristen di Timur Tengah. Di mata tentara Salib orang-orang Yakobit, Koptik, Melkit, dan Nestorian merupakan orang-orang yang menyimpang dari ajaran yang benar [23].

Setiap terjadi Perang Salib orang-orang Kristen asli Timur Tengah didera penderitaan. Terjadi pembunuhan besar-besaran, baik atas orang-orang Islam maupun orang-orang Kristen asli, seperti yang terjadi di Antiokhia (1098 & 1268), Yerusalem (1099 & 1244), Caesarea (1101), Beirut (1110), Edessa (1146), Tripoli (1289), Akha (1291), dan Aleksandria (1365). Setelah pengusiran orang-orang Kristen Barat, orang-orang Kristen asli di Mesir, Siria, dan Armenia terkena getahnya. Orang-orang Kristen tidak lagi dipercaya oleh penguasa-penguasa Islam. Sikap toleran terhadap orang-orang Kristen juga meluntur dan jurang antara kaum Kristen dan Islam diperdalam. Perang Salib mempercepat kemunduran Gereja Timur [24].

Bagi dunia Islam Perang Salib berakibat memantapkan penguasaannya terhadap wilayah-wilayah yang telah didudukinya dan mengusir tentara Salib. Namun demikian dapat dikatakan mudarat yang didapatkan justru lebih banyak, karena bagi kaum Islam wilayah-wilayah tersebut memang sudah lama mereka kuasai. Tidak ada yang baru dalam hal ini. Tidak ada hal yang baik pada tentara Salib yang dapat dipetik oleh orang Islam. Moral mereka bejat. Mereka memeras kawan dan lawan serta menyembelih keduanya tanpa ampun. Menurut Gustav Lebon yang dikutip oleh Al-Wakil fakta tersebut tidak dapat dipungkiri oleh siapapun dari bangsa Eropa. Hal ini masuk di akal karena pada umumnya tentara Salib berasal dari pengangguran, penjahat, dan rakyat jelata. Tidak ada yang dapat diharapkan dari tentara Salib selain pembunuhan manusia tak berdosa, perampokan, dan pelanggaran kehormatan [25].

Citra orang Kristen Barat berbeda sekali dengan citra orang Kristen Timur di mata orang Islam. Orang Kristen Timur dihormati sebagai orang-orang berkebudayaan tinggi, sedang orang-orang Kristen Barat dianggap biadab. Ironisnya penyerangan tentara Salib dilakukan dalam nama Kristus, Raja Damai. Sejak zaman itu agama Kristen dihubungkan dengan kekerasan. Sejak zaman itu juga kata salib bagi orang yang berbahasa Arab menimbulkan emosi peperangan. Kesan yang ditimbulkan orang-orang Kristen pada zaman itu tidak pernah dilupakan. Bagi orang Kristen tahun 1100 – 1300 merupakan masa yang sudah lewat. Akan tetapi bagi orang Islam, yang mempunyai pandangan tentang sejarah menurut Timur [26], zaman itu bukanlah zaman yang telah lewat, namun masa yang mengerikan yang selalu dapat muncul kembali [27].

Pertikaian antara Gereja Barat dan Timur menciptakan rumpang (gap) antara keduanya. Sikap Paus dan tentara Salib terhadap Gereja Timur sangat menyakiti perasaan. Perasaan ini diperkuat ketika tentara Salib menduduki Konstantinopel pada Perang Salib IV. Peristiwa itu juga mempercepat kemunduran kekaisaran Byzantium dan mengakibatkan penaklukan kota ini oleh tentara Otoman pada tahun 1453 [28]. Tentara Islam menguasai Konstantinopel justru karena mendapat maslahat dari kebijakan Gereja Barat terhadap Gereja Timur [29].

Dalam pada itu bagi Eropa Barat dan gerejanya secara politik-militer Perang Salib tidak bermaslahat sama sekali. Tidak ada satu daerah pun yang pernah dikuasai dapat dipertahankan. Dengan demikian tujuan Perang Salib untuk merebut Tanah Suci dari orang-orang Islam gagal dicapai.

Namun demikian raja-raja dan penduduk kota-kota di Eropa Barat memetik maslahat dari Perang Salib. Kedudukan raja makin kuat dan tidak sekadar bangsawan. Penduduk kota merasa lebih bebas, karena para bangsawan sibuk berperang sehingga tidak sempat menjalankan pemerintahan kota. Hubungan dagang dengan dunia timur menjadi lebih intensif.

Pada bidang kebudayaan Perang Salib berarti perjumpaan antara dunia yang biadab dan dunia yang berkebudayaan tinggi. Orang-orang Islam tidak belajar suatu apapun dari tentara buas. Sebaliknya yang diterima oleh Barat makin banyak. Orang Barat memperoleh ilmu filsafat dari orang-orang Arab, yang sebenarnya dipengaruhi oleh filsafat Yunani.

Bagi gereja sendiri Perang Salib membawa perkembangan baru dengan terbentuknya ordo-ordo baru rohani. Ordo pertama yang lahir ialah ordo-ordo ksatria rohani yang didirikan di Tanah Suci untuk melayani orang-orang yang menderita luka atau penyakit dan untuk melindungi orang-orang yang berziarah. Ordo-ordo ini menggabungkan cita-cita militer dengan cita-cita rohani. Sebagai akibatnya kekerasan masuk dalam gereja. Senjata diterima sebagai alat untuk mempropagandakan iman dan memberantas orang-orang yang mempunyai ajaran yang berbeda dengan ukuran ajaran Gereja Roma. Dalam pada itu semangat iman juga tumbuh pada orang-orang yang tidak terlibat dalam Perang Salib. Masyarakat Eropa Barat banyak mendapat-kan cerita ajaib dari orang yang pulang dari ziarah ke Tanah Suci.

Selain semangat melawan orang-orang Islam dengan pedang semangat untuk melawan mereka dengan firman mulai muncul juga. Orang mulai mempelajari bahasa Arab dan ajaran Islam untuk melawan Islam dengan jitu. Di sini terletak akar-akar pekabaran Injil dengan cara baru, yang dilakukan oleh Ordo Dominikan, Ordo Fransiskan, kemudian juga Serikat Jesuit dengan mendirikan biara di daerah pedesaan.

Sejajar dengan perkembangan ini orang-orang Kristen mulai tertarik pada Yesus sebagai manusia, seperti misalnya mistik Bernard dari Clairvux dan Fransiskus dari Assisi. Mistik diarahkan kepada Kristus yang hina dan menderita. Namun demikian ada juga orang yang mulai menisbikan iman Kristen. Mereka ternyata mengetahui adanya agama lain dengan kebudayaan tinggi. Penganutnya tidak hanya sanggup berperang dengan baik, tetapi juga menghormati orang lain. Beberapa kali mereka melepaskan raja atau bangsawan yang tertangkap. Menurut kebiasaan waktu itu seorang tawanan harus membayar sejumlah uang tebusan. Akan tetapi selama dalam masa tawanan mereka diperlakukan dengan baik dan dengan segala hormat [30].

Pengaruh Islam pada ilmu dan teknologi terhadap bangsa Eropa sangat murad (significant). Dari teknologi pelayaran, pertanian, sampai pada matematika, astronomi, kedokteran, logika, dan metafisika [31]. Akibat pengaruh itu orang-orang Eropa terdorong untuk mencari jalan lain ke Timur Jauh, daerah penghasil rempah-rempah dan kain sutra. Hal ini mereka lakukan supaya tidak bergantung lagi pada dunia Islam.

Pengaruh Perang Salib pada Hubungan Kristen-Islam di Indonesia

Ketika agama Kristen masuk ke Nusantara pada abad 16 sudah banyak penduduk yang memeluk agama Islam. Islam sendiri datang pada abad 9 – 10 melalui para pedagang Muslim India, Arab, dan Persia. F. L. Cooley, yang pada tahun memimpin penelitian hubungan Islam dan Kristen di Indonesia, mengatakan sejak awal kedatangannya kedua agama itu sudah diwarnai oleh suasana kurang baik. Sebelum masuk ke Nusantara kedua agama itu telah terlibat persaingan, konfrontasi, dan konflik di Asia Barat, Afrika Utara, dan Eropa Barat. Pengalaman konflik dan persaingan antara masyarakat kedua agama tersebut memerikan (describe) sikap dan perasaan negatif satu sama lain, sehingga hal itu terbawa juga ketika kedua agama itu masuk ke Nusantara [32].

Sebenarnya sikap pemerintah Hindia-Belanda terhadap agama Kristen bermuka dua. Pada satu pihak pemerintah seringkali mempersulit atau melarang pekabaran Injil, sedang pada pihak lain, terutama sesudah tahun 1900, pekabaran Injil disokongnya. [33] Oleh karena eratnya hubungan antara pemerintah kolonial dan kegiatan penginjilan, maka pelaksanaan misi mendapat banyak kendala di kalangan umat Islam. Kristen dipandang sebagai agama penjajah Barat yang menindas. Citra orang Barat dalam Perang Salib masih menghantui umat Islam, yang memang diwartakan demikian oleh penyebar agama Islam.

Setelah berakhirnya pemerintahan kolonial ketegangan hubungan umat Islam dan Kristen mencuat lagi. Ini terjadi pada saat pembahasan UUD 1945 dan pada sidang Konstituante hasil Pemilu 1955. Pada tahun 1971 pemeluk agama Kristen melejit menjadi 7,4%, jika dibandingkan tahun 1931 yang hanya 2,8%. Hal ini terjadi karena pemerintah orde baru mewajibkan penduduk untuk memeluk salah satu agama yang diakui negara. Banyak orang bekas anggota PKI yang memilih Kristen ketimbang Islam. Sebagian kalangan menduga jumlah itu mencapai dua juta orang. Peristiwa ini mengundang kecurigaan tokoh Islam dengan menuduh pemerintah orde baru memberikan keleluasaan bagi penyebaran agama Kristen. Kalangan Islam juga sangat berkeberatan dengan cara-cara misionaris menyebarkan agama Kristen yang dianggap mengintervensi keimanan umat Islam. Cara mereka ialah mendatangi dari rumah ke rumah dan membangun banyak gereja di kawasan Muslim. Bahkan ada yang mendatangi H.M. Rasjidi, menteri agama waktu itu. [34]

Pekabar Injil yang bertugas di Indonesia tidak saja dari Indonesia sendiri, namun juga dari Eropa dan Amerika Serikat. Pekabar Injil asing datang ke Indonesia dalam jumlah besar pada awal pemerintahan orde baru, ketika pemerintah menganjurkan para simpatisan PKI memilih agama yang sah dan diakui. Bagian terbesar memang memilih Kristen.

Bantuan dari luar negeri bukan saja dalam bentuk tenaga, tetapi juga dalam bentuk dana yang besar. Banyak dari mereka berasal dari kalangan Injili dan fundamentalis. Mereka sangat agresif dalam melakukan penginjilan, yang bahkan tidak empan papan. Dengan bantuan dana yang besar itu mereka membangun banyak gereja di tempat-tempat strategis. Selain itu mereka melakukan kegiatan sosial kepada masyarakat miskin, yang tujuan utamanya agar orang miskin tersebut berpindah agama. Suasana ini diperparah lagi dengan banyaknya warga keturunan Tionghoa yang masuk Kristen aliran Injili dan fundamentalisme. Di sinilah konflik keagamaan bercampur dengan konflik etnis. Konflik keagamaan timbul akibat kegiatan misi yang dilakukan secara agresif tanpa mempertimbangkan perasaan umat Islam. Tidaklah heran jika terjadi konflik antar umat beragama, maka dampaknya terjadi juga perusakan toko-toko milik keturunan Tionghoa.

Semangat tentara Salib yang berperang demi agama masih banyak mewarnai para pekabar Injil. Bagi mereka kebenaran mutlak hanya ditemukan dalam agama Kristen, sedang agama lainnya sesat. Pada suatu acara Pengajian Injil (Bible Study) yang diselenggarakan oleh Institute for Syriac Christian Study (ISCS) pada tanggal 7 Desember 2001 di Jakarta penulis sempat berdebat dengan peserta dari kalangan fundamentalis. Salah satu pokok yang diperdebatkan bahwa Allah orang Kristen berbeda dengan Allah orang Islam. Menurutnya Allah orang Kristen adalah YHWH. Penulis hanya menjawab, pertama, bahwa jika Allah orang Kristen dan orang Islam berbeda, maka orang itu suka tidak suka menganut politheis, karena ada dua Allah di sana. Kedua, Yesus Kristus dan para rasul sendiri tidak mempertahankan nama YHWH dalam pengajarannya. Menurut penulis orang seperti itu tidak sedikit jumlahnya di Indonesia. Jika gerakan mereka tidak dibendung, maka akan menjadi batu sandungan bagi kerukunan umat beragama di Indonesia, dan tentu saja mereka malah akan menghambat penyampaian Kabar Baik.

Perenungan

Walaupun Indonesia sudah merdeka lebih daripada setengah abad, ternyata kerukunan umat Kristen dan Islam masih merupakan cita-cita. Memang di sana-sini sudah dilakukan upaya pembenahan, namun belum menyentuh lapisan terbawah dan yang pasti masih belum dapat meng-hilangkan trauma Perang Salib.

Beberapa tahun terakhir ini gencar dilakukan dialog antara umat Kristen dan Islam. Hasilnya cukup menggembirakan, karena pelaku dialog sudah dapat memahami iman yang berbeda. Kendati demikian dialog ini sangat terbatas di lingkungan intelektual (teolog).

Pembenahan diri untuk meningkatkan kerukunan umat Kristen dan Islam memang seyogyanya dilakukan oleh kedua belah pihak. Akan tetapi umat Kristen tidak patut menuntut terlalu banyak umat Islam, karena sudah sepatutnya umat Kristen / gereja menggagas pembenahan dirinya sendiri. Salah satu yang perlu dibenahi adalah paradigma pelayanan.

Istilah pelayanan atau melayani paling banyak digunakan gereja di samping istilah mengasihi. Orang pada umumnya mengartikan pelayanan adalah pelayanan kepada Tuhan, yang kemudian berkonotasi ibadah, kebaktian, dan doa. Dengan kata lain pelayanan bersifat kerohanian. Namun demikian pelayanan juga bukan melulu ke arah horisontal yang meliputi etika. Melayani yang benar adalah melayani seperti Yesus melayani.

Banyak sekali contoh di dalam Alkitab tentang pelayanan Yesus. Yang disoroti dalam tulisan ini ialah pelayanan Yesus pada Markus 8:1-10. Perikop tersebut seringkali tenggelam dengan cerita Yesus memberi makan kepada 5.000 orang yang terdapat dalam Mat 14:13-21, Markus 6:30-44, Luk 9:10-17, dan Yoh 6:1-13.

Ada perbedaan hakiki pelayanan Yesus pada Markus 8:1-10 dan keempat perikop tersebut di atas. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari sisi geografis. Pemberian makan kepada 5.000 orang terjadi di wilayah Palestina, yaitu di Galilea, sedang pemberian makan kepada 4.000 orang (Markus 8:1-10) terjadi di luar wilayah Palestina, yaitu Dekapolis. Daerah itu banyak dihuni oleh orang Yunani perantauan.

Para murid Yesus sebelumnya sudah menyaksikan bagaimana Ia memberi makan 5.000 orang. Suasana yang mirip terjadi juga di Dekapolis, tetapi para murid tetap saja tidak peka. Mereka berpikir Yesus tidak akan memberi makan, karena orang-orang itu bukan orang Yahudi. Ternyata mereka keliru.

Yesus memberi makan kepada 4.000 orang itu atas dasar belas kasihan, yang bukan sekadar kasihan. Orang-orang itu dikenyangkanNya. Jelas sekali di sini Yesus melayani tanpa pamrih. Tidak ada cerita tentang pertobatan atau mereka menjadi pengikut Yesus. Malahan setelah mereka kenyang Yesus menyuruh mereka pulang (ay. 9).

Dari teladan pelayanan Yesus semestinya gereja bercermin pada ini. Melayani melewati batas golongan sendiri mestilah tanpa strategi untuk menjadikan mereka anggota kelompok. Pelayanan mestilah serbacakup (comprehensive). Pelayanan serbacakup mestilah menyentuh orang yang tidak seagama. Jika tidak, itu bukanlah alkitabiah; suatu istilah yang justru acapkali ditekankan di kalangan gereja tertentu.

Orang-orang Kristen masih berpikiran bahwa pewartaan Kabar Baik berarti meluaskan atau menambah anggota jemaat. Memang itu ada benarnya. Namun bukan itu hakikatnya. Gairah untuk menambah anggota jemaat menyebabkan orang Kristen banyak melakukan berbagai usaha untuk menarik perhatian masyarakat. Usaha ini bukanlah pengungkapan kasih, karena bagaimanapun juga ada pamrihnya, karena agar orang lain tertarik menjadi Kristen. Tidaklah heran jika pihak Islam menuduh itu kristenisasi dengan iming-iming.

Kita dapat saja melayani secara nyata dengan melakukan berbagai kebajikan dalam rangka peningkatan taraf hidup masyarakat, tanpa perlu mengorbankan prinsip kesaksian Kristen. Umat Islam merupakan kelompok terbesar di Indonesia. Peningkatan taraf hidup dan pengentasan kemiskinan tentunya dapat dilaksanakan jika kelompok terbesar itu ikut terlibat. Jika orang Kristen memang benar-benar melayani tanpa pamrih dalam rangka hal itu, lalu memang terjadi peningkatan taraf hidup masyarakat lokal, tentunya dengan kehendak sendiri mereka akan bertanya-tanya mengapa orang Kristen melayani mereka tanpa pamrih. Dengan demikian kita sudah memberi tempat bagi Roh Kudus untuk bekerja.

Kita mesti membuat agama (Kristen) lebih membumi, lebih mengikuti akal sehat, yang tidak hanya terampil ngeyel dan ngotot mengenai doktrin, yang saking militannya tanpa sadar menempatkan doktrin itu di atas Alkitab, bahkan Allah. Kita mesti lebih peduli pada kebutuhan nyata manusia, membuat kehidupan lebih manusiawi, lebih rendah hati untuk tunduk pada norma-norma etika. Beragama bukanlah untuk urusan vertikal saja, yang menekankan gatra (aspect) ritual dan kemurnian ajaran. Keluhuran ajaran agama mestilah dipraktikkan secara nyata untuk mengembangkan wawasan dan kepedulian terhadap kemanusiaan, kemiskinan, keadilan, demokrasi, dan lain sebagainya.

Catatan
Untuk uraian selengkapnya tentang Ismael lihat Efron Dwi Poyo, Ismael: Suatu Pandangan Objektif dari Seorang Kristen di http://www.5roti2ikan.net/artikel/21/, 21 November 2001. (kembali ke isi)
W. Montgomery Watt, Islam dan Peradaban Dunia: Pengaruh Islam atas Eropa Abad Pertengahan, Cet. 2. (Jakarta: Gramedia, 1997), 2. (kembali ke isi)
ibid., 2 (kembali ke isi)
Th. van den End & Christiaan de Jonge, Sejarah Perjumpaan Gereja dan Islam, Cet. 3. (Jakarta: STT Jakarta, 2001), 89. (kembali ke isi)
W. Montgomery Watt, op cit., 4 (kembali ke isi)
Muhammad Sayyid al-Wakil, Wajah Dunia Islam: dari Dinasti Bani Umayyah hingga Imperialme Modern, Cet. 4. (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2000), 43. (kembali ke isi)
W.Montgomery Watt, op cit., 5-7 (kembali ke isi)
Th. van den End & Christiaan de Jonge, op cit., 70-71. (kembali ke isi)
Muhammad Sayyid al-Wakil, op cit., 166. (kembali ke isi)
Th. van den End & Christiaan de Jonge, op cit., 71-76. (kembali ke isi)
Muhammad Sayyid Al-Wakil, op cit., 173-174. (kembali ke isi)
ibid., 174-175. (kembali ke isi)
Th. van den End & Christiaan de Jonge, op cit., 77-78. (kembali ke isi)
Muhammad Sayyid Al-Wakil, op cit., 175. (kembali ke isi)
Th. van den End & Christiaan de Jonge, op cit., 78. (kembali ke isi)
Ibid. (kembali ke isi)
Ibid., 79. (kembali ke isi)
Ibid. (kembali ke isi)
Norman Housley, The Later Crusade: from Lyons to Alcazar 1274 – 1580. (New York: Oxford Univ. Press, 1995), 8. (kembali ke isi)
Philip K. Hitti, Dunia Arab. (Yogyakarta: Pustaka Iqra, 2001), 214. (kembali ke isi)
M. Yahya Harun, Perang Salib dan Pengaruh Islam di Eropah. (Yogyakarta: Bina Usaha, 1987), 33-34. (kembali ke isi)
Timothy Ware, Sejarah Gereja Orthodox. (Jakarta: Satya Widya Graha, 2001), 201. (kembali ke isi)
Th. van den End & Christiaan de Jonge, op cit., 80. (kembali ke isi)
Ibid., 81. (kembali ke isi)
Muhammad Sayyid Al-Wakil, op cit., 227. (kembali ke isi)
Bagi orang Timur sejarah merupakan warisan masa lalu yang tetap aktual, sehingga tidak terlalu penting kapan sesuatu terjadi pada zaman dahulu. (kembali ke isi)
Th. van den End & Christiaan de Jonge, op cit., 81-82. (kembali ke isi)
Sebelum penaklukan kota itu Gereja Barat (1439) di Ferrara sempat menawarkan bantuan militer asalkan Gereja Timur memenuhi satu syarat. Syaratnya ialah Gereja Timur harus menerima sisipan filioque pada Syahadat Nicea yang asli berbunyi Que Patre Precredit menjadi Que Patre Filioque Precredit. Namun syarat ini ditolak oleh Gereja Timur. Sisipan filioque muncul dalam konsili lokal Gereja Latin di Toledo (586) sebagai reaksi atas ajaran Arianisme. Penulis sependapat dengan sikap Gereja Timur, karena sisipan itu mencederai tauhid Kristen dan mengingkari syahadat yang telah ditetapkan oleh Muk-tamar Agung Ekumenis dalam konsili-konsili sebelumnya. (kembali ke isi)
Th. van den End & Christiaan de Jonge, op cit., 82. (kembali ke isi)
Ibid., 84-86. (kembali ke isi)
W. Montgomery Watt, ibid., 43. (kembali ke isi)
Sudarto, Konflik Islam-Kristen: Menguak Akar Masalah Hubungan antar Umat Beragama di Indonesia. (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2001), 71-72. (kembali ke isi)
Th. van den End, Harta dalam Bejana: Sejarah Gereja Ringkas. Cet. 12. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997), 283-284. (kembali ke isi)
Sudarto, op cit., 76-79. (kembali ke isi)
Rujukan
Al-Wakil, M.S. 2000. Wajah Dunia Islam: dari Bani Umayyah hingga Imperialisme Modern. Cet. 4. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta. 354 h.
Harun, M. Y. 1987. Perang Salib dan Pengaruh Islam di Eropah. Bina Usaha. Yogyakarta. x + 103 h.
Hitti, P.K. 2001. Dunia Arab. Pustaka Iqra. Yogyakarta. xiv + 242 h.
Housley, N. 1995. The Later Crusade: from Lyons to Alcazar 1274 – 1580. Oxford Univ. Press. New York. xxiv + 528 h.
Poyo, E.D. 2001. Ismael: Suatu Pandangan Objektif dari Seorang Kristen. http://www.5roti2ikan.net/artikel/21/, 21 November 2001.
Sudarto. 2001. Konflik Islam-Kristen: Menguak Akar Masalah Hubungan Antar Umat Beragama di Indonesia. Pustaka Rizki Putra. Semarang. xxiii + 204 h.
van den End, Th. 1997. Harta dalam Bejana: Sejarah Gereja Ringkas. Cet. 12. BPK Gunung Mulia. Jakarta. xii + 409 h.
_____________ & C. de Jonge. 2001. Sejarah Perjumpaan Gereja dan Islam, Cet. 3. STT Jakarta. viii + 189 h.
Ware, T. 2001. Sejarah Gereja Orthodox. Satya Widya Graha. Jakarta. iv + 490 h.
Watt, W.M. 1997. Islam dan Peradaban Dunia: Pengaruh Islam atas Eropa Abad Pertengahan. Cet. 2. Gramedia. Jakarta. xiii + 184 h.